Sekapur Sirih Kabupaten Tangerang


BantenNet.com- Wilayah Kabupaten Tangerang yang terletak di timur Provinsi Banten, Dan sebelah utara perbatasan dengan laut Jawa, sebelah timur perbatasan dengan DKI Jakarta dan sebelah selatan perbatasan dengan Kabupaten Bogor,

Kabupaten Tangerang  yang di juluki Kota Seribu Industri memiliki catatan  sejarah panjang pada abad ke Lima (5) Masehi.

Tangerang pernah menjadi bagian Kerajaan Tarumanagara.

Kerajaan tarumanagara tersebut, Dapat di telusuri dari tujuh (7) prasasti yang masing masing dintemukan di daerah Bogor, Bekasi,Pandeglang, Dan Lebak.

Ketujuh prasasti tersebut ialah, Prasasti Cianten, Prasasti Jambu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Muara Cianteun, Prasasti Lebak dan Prasasti Tugu.


Dan di ketahui bahwa Tangerang adalah bagian dari wilayah kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat pada saat itu.

Dari sumber tradisi setempat menyebutkan, sekitar tahun 1670 antara banten dengan  Sumedang dan cirebon telah melakukan hubungan politik dan Perdagangan.

Sejalan dengan itu, Pada akhir tahun 1680 terjadi pertemuan antara Sultan Banten dengan wakil penguasa Sumedang  dan Cirebon  di sebuah tempat yang bernama Pasanggrahan,yaitu daerah kota pertama di daerah Tangerang pedalaman.

Dalam pertemuan itu, Di sepakati kedudukan Tangerang dalam struktur pemerintahan Kasultanan Banten adalah Kemaulanaan, Dengan ibukotanya Pasanggrahan.

Kekuasaan Kemaulanaan Tangerang pada saat itu,mencakup wilayah tangerang, Jasinga dan Lebak, Dan kemaulanaan tangerang di pimpin oleh tiga (3) orang temunggung yang berasal dari sumedang, jawa barat, AriaYudhanegara, Aria Wangsakara, Aria Santika, Dan dikemudian hari dikenal dengan sebutan tigaraksa,yang artinya tiga pemimpin.

Jika merunut kepada legenda rakyat dapat disimpulkan bahwa cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksa pada saat itu, Nama Tigaraksa itu sendiri berarti tiang tiga (3) atau tilu tanglu, Sebuah pemberian nama sebagai wujud penghormatan kepada tiga Tumenggung yang menjadi tiga pimpinan di saat itu.

Seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian Barat Sungai Cisadane, saat ini diyakini berada di Kampung Gerendeng.

Waktu itu, tugu yang dibangun Pangeran Soegri dinamakan sebagai Tangerang, Yang dalam bahasa Sunda berarti tanda.

Prasasti yang tertera di tugu tersebut ditulis dalam huruf Arab ”gundul” berbahasa Jawa kuno yang berbunyi ”Bismillah paget Ingkang Gusti,Diningsun juput parenah kala Sabtu,Ping Gangsal Sapar Tahun Wau,Rengsena perang netek Nangaran,Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian,Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”.

Yang berarti ”Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa,Dari Kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu,Tanggal 5 Sapar Tahun Wau,Sesudah perang kita memancangkan tugu,untuk mempertahankan batas Timur Cipamungas (Cisadane) dan Barat Cidurian,Semua menjaga tanah kaum Parahyang.

Sebutan ”Tangerang” yang berarti ”tanda” itu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang sebagaimana yang dikenal sekarang ini.

Seiring dengan status daerah Tangerang, ditingkatkan menjadi Daerah Kabupaten Tangerang pada tanggal 27 Desember 1943,
Yang dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.

>red/dry/berbagai sumber

Post a Comment

0 Comments