Calon Tunggal, Problem Demokrasi



BantenNet.com.Banten - Banyaknya calon tunggal pada pelaksanaan pilkada bukanlah hal baru dalam dunia perpolitikan. Di Banten saja setidaknya terdapat 3 wilayah yang menjadi calon tunggal pada pilkada tahun ini, yaitu Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Lebak.

Kendati demikian, banyaknya calon tunggal pada masa pilkada tahun ini menjadi sorotan tersendiri bagi Tulus Setyanto sebagai politikus dari Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Provinsi Banten. Menurutnya, ini sebuah problem yang serius bagi negara demokrasi.

Problem ini saya identivikasi dengan 3 indikasi. Pertama, gagalnya pengkaderan oleh partai politik untuk mencari kader-kader terbaik di partainya. Kedua, bersikap instan, akhirnya merasa cukup dengan mengambil tokoh yang sudah populer, punya uang, dan punya jabatan politik. Ketiga, kejar target, agar tidak teringgal kereta koalisi.

"Makanya tidak heran jika kebanyakan yang mencalonkan calon petahana," jelas Tulus kepada BantenNet. (20/1).

Tulus mengharap problem semacam ini jangan sampai dibiarkan berlarut-larut. "Ini tidak boleh terjadi terus memerus karena bisa menciptakan dinasti, korupsi, dan partisipasi politik yang rendah dari masyarakat," tandasnya.

Masih menurut Tulus, lemahnya partai politik untuk meyakinkan calon pemimpin baru maupun calon independen untuk diajukan karena parta politik lebih mengedepankan pramagtisme dan hanya mempertimbangkan kepentingan jangka pendek dan tidak bisa menginvestasikan calon politik dalam jangka panjang," tambahnya.

Berdasarkan data yang dihimpun BantenNet, selain Banten, daerah yang memiliki calon tunggal pada pilkada tahun ini antara lain, Kabupaten Tapin, Kota Prabumulih, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Mamberano Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Calon tunggal tersebut akan melawan kolom kosong yang ada di kertas suara yang disediakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk pilkada.


> ldn

Post a Comment

0 Comments