Merefleksi Kesederhanaan ” Sederhana Adalah Tergantung Kebutuhan Dan Kemampuan “

Merefleksi Kesederhanaan ” Sederhana Adalah Tergantung Kebutuhan Dan Kemampuan “

Jumat, April 10, 2020, April 10, 2020
Merefleksi Kesederhanaan ” Sederhana Adalah Tergantung Kebutuhan Dan Kemampuan “
Poto : Drs. Nanang Tahqiq, MA


 

Penulis : Drs. Nanang Tahqiq, MA

Alumni Pondok Pesantren Daar El -Qolam Jayanti Tangerang Banten, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dan Universitas Mcgill Montreal Canada

BantenNet.com, KABUPATEN TANGERANG - Sebagaimana telah penulis lukiskan di “Prelude,” bahwa seorang guru ideal senantiasa memberi pembelajaran sekaligus hikmah tinggi, baik dalam kearifan maupun kekeliruan sekalipun. Pada kesempatan kali ini penting benar mengapresiasi makna dan pemahaman dua tema senantiasa dikemukakan berulang-ulang oleh Ustadz Rifa’i yakni: kesederhanaan serta keikhlasan. Namun demi uraian romantik, masing-masing materi dikupas dalam bab dan episode tersendiri.

 

Dalam beberapa kesempatan pidato serta ceramahnya, juga dalam obrolan-obrolan ringan, Ustadz Rifa’i menyampaikan bahwa sederhana adalah tergantung kebutuhan dan kemampuan. “Jika pondok ini sudah membutuhkan helikopter, maka helikopter adalah ukuran kesederhanaan bagi pondok ini,” demikian ungkapan senantiasa disampaikan. Ucapan Ustadz Rifa’i tersebut adalah pengetahuan beliau temukan dari hasil pergulatannya selama mengelola pondok. Semakin besar pondok, semakin butuh sarana dan prasarana tinggi. Ketika pondok masih kecil, pengawasan masih bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Tapi saat pondok mulai luas, pengawasan sudah membutuhkan kendaraan, minimal motor. Manakala pondok sudah mencapai ribuan hektar, bukan lagi motor dihajatkan, tetapi mobil atau helikopter. Ini semua adalah kebutuhan pondok.

 

Definisi sederhana adalah prilaku sesuai kemampuan dan kebutuhan, sederhana juga tidak mengandung kemewahan. Akan tetapi bak pepatah-petitih berpetuah: “rambut sama hitam, pendapat berbeda-beda, sebanyak rambut,” kata kesederhanaan dan kemewahan pun kemudian memeroleh ragam tafsir dan definisinya. Terlebih topik kesederhanaan, terkait erat dengan kebutuhan dan kemampuan menjadi lebih rumit saat berpaut maut dengan kepemilikan.

 

Seperti telah diketahui bersama, pondok, atau pesantren, terdiri dari lima unsur: kiyai, santri, asrama, kitab (warna kuning atau putih), dan masjid. Kelima unsur inilah membuat sesuatu dapat disebut pondok atau pesantren. Manakala menyebut pondok, maka kelima unsur tersebut harus ada. Dengan begitu, pondok tidak bisa hanya kiyai saja, atau santri saja, apalagi benda-benda mati saja seperti kitab, asrama dan masjid. Persoalan menjadi kompleks tatkala kelima unsur ini dihadapkan pada kebutuhan dan kepemilikan, terutama antara kebutuhan dan kepemilikan milik kiyai dan milik santri (kitab, asrama dan masjid tentu tidak bisa dimasukkan dalam kategori berkebutuhan dan kepemilikan.) Bila ada milik pondok, semisal mobil pondok, maka milik siapakah mobil tersebut? Milik kiyai, ataukah santri, ataukah kedua mereka? (di sini tidak bisa dikatakan milik kitab, atau asrama, atau masjid, karena ketiga benda ini tidak memakai.) Kemudian siapakah butuh mobil tersebut? Kiyai ataukah santri? (kitab, asrama, masjid pasti tidak butuh.) Lebih rumit lagi apabila mobilnya sangat mahal dan supermewah seperti Rolls Royce: apakah mobil itu milik kedua pihak kiyai dan santri, ataukah milik kiyai saja? Sudah pasti santri tidaklah. Selanjutnya pertanyaan lebih jauh dari sisi kebutuhan: apakah memang kiyai atau santri sudah membutuhkan mobil sekelas Rolls Royce? Kebutuhan semacam bagaimanakah?

 

Murid-murid Ustadz Rifa’i—kemudian menjadi kiyai dan pemimpin sebuah pondok, disebut kiyai alumni—mayoritas mereka memahami kata ‘pondok’ di situ adalah kiyai. Sederhananya, pondok = kiyai. Maka lebih jauh dimengerti oleh kiyai alumni bahwa “milik pondok” adalah “milik kiyai” (dan keluarganya, jika ingin ditambahkan.) Pada sisi lain tidak pernah ada penjelasan bahwa milik pondok adalah milik santri, saat dihubungkan dengan barang-barang mewah. Melanjutkan contoh di atas, andaikan pondok memunyai mobil supermewah Rolls Royce, mobil ini pasti nongkrong di garasi kiyai saja, bukan garasi santri, dan hanya boleh dikendarai oleh kiyai, serta tak seorang pun santri dapat menggunakannya. Dengan demikian, pada dasarnya untuk barang-barang mewah, terlebih supermewah, santri tidak punya apa-apa, sementara kiyainya punya segalanya. Maka benarlah pergunjingan selama ini beredar bahwa keserhanaan hanya untuk santri, bukan kiyai. Kepunyaan pondok kemudian beralih makna dan diartikan menjadi kepunyaan kiyai. Ini definisi menurut kenyataan, yakni kenyataan bahwa barang mewah pasti berada di kediaman dan tangan kiyai, bukan tempat lainnya.  

 

Selain menurut per definisi kenyataan, istilah “milik pondok” dipahami menjadi “milik kiyai” lantaran tidak ada definisi untuk “milik sosial (umum)” dan “milik personal (pribadi).” Hanya ada penjelasan “milik pondok,” akan tetapi tak ada keterangan mengenai “milik sosial” atau “milik personal.” Milik sosial dapat dimengerti sebagai milik kiyai dan para santri semuanya, sedangkan milik personal adalah milik masing-masing individu, baik kiyai secara idividual maupun santri sendiri-sendiri. Hingga di sini, tatkala mendefinisikan kata pondok, dalam arti “milik pondok,” masih belum tertata rasional, sebab belum terjelaskan secara tuntas perbedaannya dari definisi kepemilikan secara sosial (umum) dan personal.

 

Boleh jadi ungkapan “milik pondok” di situ lantas berupa eufemisme (penghalusan bahasa) belaka untuk menyatakan “milik kiyai.” Barangkali karena tak berani terang-terangan, atau malu-malu mengakui, atau enggan menunjukkan diri memiliki barang mewah, maka digunakanlah bahasa malu-malu: “milik pondok,” alih-alih “milik kiyai.” Perihal ini biarlah para kiyai alumni menjawabnya masing-masing dengan argumen mereka masing-masing.

 

Pada dimensi lain, sejatinya siapa pun akan berpikir bahwa jikalau kesederhanaan itu disandingkan pada pondok—dalam arti bukan milik kiyai secara pribadi, melainkan milik santri-santrinya secara umum—semewah apapun barangnya, tetaplah sederhana. Bila mobil mercedes untuk kegiatan pondok, bukan untuk rutinitas kiyai, pasti dianggap sederhana. Namun pertinyiinnyi: apakah pondok memang membutuhkan mobil sekelas mercedes? Untuk apa? Jika untuk pengawasan keliling pondok bukankah cukup mobil kecil saja, sederhana saja dan tak perlu mewah? Jangan-jangan justru menggunakan motor lebih efisien dan efektif daripada mercedes.

 

Pada sebuah kesempatan lain, ditemukan di sana satu dua kiyai alumni dengan gagah perkakas (lebih dari perkasa) mendekritkan bahwa dirinya memang membutuhkan mobil mewah. Tegas-tegas kiyai-kiyai ini menyatakan secara personal dan pribadional butuh kemewahan, dan tidak ada kaitannya dengan kepemilikan atawa kebutuhan pondok. Pada umumnya, para kiyai tersebut mencari-cari justifikasi (pembenaran) terhadap prilaku bermewah-mewahnya karena tiga alasan.

 

Pertama, pondok kerap membutuhkan utang untuk membangun. Supaya dipercaya oleh pemberi utang maka saat berutang kiyai harus menunjukkan kemampuan bayar utangnya, mobil mewah inilah membawa tingkat kepercayaan terhadap pemberi utang. Kepada siapa dan kemana sang kiyai berutang? Ke toko material atau toko bangunan (disingkat TB.) Ketika ditanya: apakah mencari pinjaman utang ke toko material memang harus punya mobil mewah setingkat mercedes? Tidakkah si pemilik TB justru lebih percaya pada bukti pondok sangat besar dan luas milik kiyai tersebut daripada mercedesnya? Bila bukan lewat wujud pondoknya, bukankah dengan spiritualitasnya, atau keilmuannya atau intelektuilitasnya —daripada dengan mercedesnya— jaminan itu bisa diberikan oleh orang sekelas kiyai? Bukankah pemilik material justru memercayai karena si penghutang adalah seorang kiyai? Apakah bagi pemilik material derajat kiyai tidak cukup, sehingga membutuhkan jaminan meercedes? Ada gejala apa ketika kiyai sudah tidak dapat kepercayaan dari toko material, sehingga butuh mercedes? Mengapa pula gaya berutang kiyai seperti para pengusaha di Jakarta, yakni dengan pamer mercedes sebagai jaminan, bukan dengan spiritualitasnya? Biarlah kiyai-kiyai itu menalar dan menerangkan.

 

Gaya berutang kiyai di atas mengingatkan kita pada pola-pola businessmen di kota-kota besar terutama Jakarta. Gaya tersebut mengimbas pada cerita tentang pemerintah Indonesia saat hendak berutang ke sebuah negeri kaya. Dengan mencontek budaya pengusaha Jakarta, para pejabat pemerintah Indonesia beriringan menggunakan mobil amat supermewah berangkat ke lokasi akan dibicarakan perjanjian hutang.  Sementara para pejabat dari negara si pemberi hutang justru cuma naik kereta dan bus, biarpun berpakaian lengkap, berjas dan berdasi. Kondisi ini menimbulkan keheranan luar bioskop (lebih dari biasa) pada seluruh dunia, sebenarnya siapa berhak berhutang: apakah  Indonesia layak diberi hutang padahal mengendarai mobil-mobil mewah, sementara pemberi utang menaiki transportasi publik saja? Dari sisi penampilan, tentu Indonesia tampak lebih kaya raya daripada negara pemberi utang tadi. Maka sepantasnya Indonesia menjadi donor bukan penghutang. Tapi kenyataannya, justru bermewah-mewah supaya dapat utang, hmm.

 

Masyarakat dunia membaca betapa mentah mental-spiritual dimiliki bangsa Indonesia lantaran beride terbalik. Di mana pun kondisi peminjam (atau penghutang) pastilah miskin, tidak dalam kemewahan, serba kekurangan, adapun pemberi utang sebaliknya: lebih kaya raya, sejahtera, mewah daripada si penghutang. Tapi dalam kasus di atas malah menunjukkan situasi terbalik, Indonesia justru lebih mewah, maka terlihat lebih layak jadi pemberi pinjaman.

 

Begitupun peristiwa pada kiyai dan pemilik TB di atas adalah meyalahi akal sehat. Kiyai punya mercedes, sementara si pemilik bahan-bahan material cuma kijang pengangkut semen. Kalau pemilik toko memiliki mercedes, tentu lebih pantas, soalnya dia pemberi utang, dan harus lebih kaya daripada pengutang. Namun jika ia punya mobil murah-murah saja, berarti ia hidup dalam kesederhanaan.

 

 Kedua, kiyai butuh mobil mewah untuk investasi. Suatu saat pondok butuh uang besar, galibnya untuk membuat bangunan, maka investasi mobil mewah tersebut bisa dijual untuk menutupi pembiayaannya. Jadi mobil mewah untuk ongkos bangunan baru. Akan tetapi hal ini tampak merupakan, lagi-lagi, pemikiran terbalik-balik. Jika tahu kelak akan membutuhkan dana besar, kenapa harus membeli mobil mewah dan uang sisanya baru ditabung? Tidakkah seharusnya dibalik: membeli mobil murah-murah saja sehingga tabungan menjadi lebih besar dan tidak perlu repot-repot lagi jual mobil saat butuh membangun? Mobil mewah sekalipun jika dijual kembali pasti harganya akan jatuh bergelimpangan, dan tetap tidak akan mencukupi untuk ongkos pembangunan gedung. Biarlah para kiyai itu merenungkan dan menjawabnya.

    

Ketiga, kenapa tidak boleh kiyai punya boleh mewah, kenapa hanya artis dan pengusaha saja boleh?, padahal artis cuma penghibur, pengusaha juga cuma pemburu uang?, begitulah kira-kira pertanyaan retorik seorang kiyai alumni pemilik mobil mewah. Pada satu segi, kiyai mirip artis sebab menghibur lewat ceramah-ceramahnya, dakwahnya, tablighnya, dengan mengundang kehadiran banyak audiens di mushalla, masjid, lapangan, bahkan di radio dan televisi. Segi lain, kiyai mirip pengusaha lantaran memunyai pendapatan atawa pemasukan besar dari iuran santri, hatta membeli apapun pasti mampu. Apalagi saat sarat sentimentil menghardik, “Iyeu duit, duit aing, iyeu mobil, mobil aing, ngapain lagi elo sibuk sibuk ngurusin mobil aing? Kenapa cemburu pada banda aing?” Maksudnya, jangan dunk kritis menyoal kiyai, tapi membiarkan artis dan pengusaha. Jangan cuma kritis pada kiyai aja dang, mestinya juga pada artis dan pengusaha ah. Jangan iri, jangan ada jealousy.  

 

Sebetulnya agak repot menyamakan kiyai dengan artis maupun pengusaha. Juga untuk apa kita ngurusin artis dan pengusaha.  Bukan pula persoalan kecemburuan bermain di sini, melainkan memang masyarakat melihat posisi kiyai di atas artis dan pengusaha, bahwa kiyai berfungsi lebih tinggi, lebih mulia daripada artis maupun pengusaha. Kiyai adalah sumber spiritualitas dan intelektuilitas, maka kiyai bukan sumber kekayaan dan kemewahan. Sebaliknya, artis dan pengusaha adalah sumber kekayaan dan kemewahan, juga malahan hedonisme dan luxury. Sehingga tidak tepat, pula bukan sikap bijak, andaikata kiyai mengasosiasi diri dengan artis atawa pengusaha, apatahlagi kiyai jadi pelopor hedonisme.

 

Santri dan masyarakat akan mencontoh kiyai dalam pola hidup mengarah ke spiritualitas saja, atau intelektualitas saja, atau keduanya. Tidak ada santri dan masyarakat mengikuti kiyai dalam kemewahan dan kekayaan. Pasalnya, kekayaan dan kemewahan kiyai berada pada tingkat spiritualitas dan intelektuilitasnya, bukan pada barang-barang mewahnya. Tidak perlu kiyai jika ingin mencontoh mewah, sebab sudah banyak contoh dari selainnya, setiap hari, tiap jam, tiap detik. Justru kiyai sanggup memberi contoh bahwa hidupnya tak mewah dan tak kaya namun bahagia; ihwal seperti inilah kebutuhan masyarakat terhadap kiyai. Kiyai mengajarkan pada masyarakat luas bahwa intelektuilitas dan spiritulitas adalah segalanya.

 

Memang benda kita miliki, kita punya apa, akan membuat kita dilirik orang, dihargai, dihormati. Konsekuensinya, kita pun berbondong-bondong berlomba-lomba menjejali diri dikelilingi oleh benda-benda mewah. Utamanya orang-orang seperti ini mengharuskan diri memiliki barang-barang mewah. Dengan barang mewahnya ia menjadi gagah dan punya makna. Akan tetapi sejatinya bila kita bergantung pada mobil, rumah, harta benda lainnya, sesuatu di luar diri kita, itu disebabkan diri kita tidak memiliki apapun. Jadi ini terkait dengan kualitas diri.

 

Ketika kualitas diri tidak dapat memberi kegagahan pada dirinya, sementara dirinya sendiri tidak dapat membuatnya berkualitas, maka kualitas akan dicari dari luar dirinya, ia pun ketergantungan pada kualitas di luar diri. Dengan demikian ia berusaha menjadi berkualitas dengan dipenuhi benda-benda di luar dirinya, bukan dengan dirinya sendiri. Kualitas di luar diri adalah materi, dan harus materi mahal-mahal. Akan tetapi sebaliknya, manusia memiliki kualitas diri tidak akan memerlukan lagi benda-benda, benda mewah sekalipun. Kualitas diri itu adalah ilmu dan spiritualitas. Hanya manusia tidak berilmu, tidak memiliki ilmu, juga tidak bisa bergantung pada keilmuannya, maka ia akan bergantung pada materi. Maka menjadi aneh apabila kiyai mengantungkan kualitasnya pada benda-benda mewah, sebab ketergantungan kualitas kiyai sejatinya pada spiritualitasnya.

 

Dengan begitu, seseorang tidak bergantung pada materi karena ia bergantung pada keilmuan dan spiritualitasnya. Di ruangan manapun ia berada, di tempat manapun ia duduk, orang berilmu pasti akan menerangi dan memberkati sekelilingnya, biarpun tempat tersebut miskin dan buruk sekali. Ilmu dan spiritualitas ini pula senjata khas kiyai guna mengiluminasi dunia. Ketika kiyai telah tidak bisa lagi menjadi contoh spiritualitas dan intelektuilitas, akibatnya masyarakat pun akan berpaling dan berpedoman pada sembarang orang, maka jatuhlah masyarakat ke tangan-tangan tidak berpengetahuan serta menyesatkan.

 

Pada sisi lain, artis menjadi sumber spiritualitas dan pedoman masyarakat adalah benar di negeri-negeri di mana kiyai (dan pemuka agama) tidak lagi dipercaya bahkan dilecehkan, serta tak dipercaya. Di seluruh negara Barat, mayoritasnya non-Muslim, kelas pendeta tidak lagi dijadikan rujukan. Masyarakat Barat lebih merujuk pada artis dan film. Maka di Barat, apapun kerja kemanusiaan selalu mencari role model dari kalangan artis dan selebritis lainnya, semisal atlet dan olahragawan/wati. Maka tidak aneh apabila para pelopor dan pejuang apapun, termasuk spiritualitas, di Barat adalah para artis dan selebiritis juga, bukan pemuka agama. Film amat menjadi rujukan kuat bagi kehidupan di sana dengan menggeser peran kitab suci.

 

Sementara di Indonesia, pemuka agama dan kitab suci masih memegang peranan tinggi. Kiyai masih dipercaya, kata-katanya terus didengar, pesantren-pesantrennya selalu dipenuhi oleh anak-anak dari rakyat Indonesia, petuahnya menjadi solusi, dan panggung tabligh akbarnya adalah seseru dan seramai panggung-panggung konser dangdut. Maka menjadi ironi bila sampai kiyai berubah orientasi dengan memamerkan lainnya, selain spiritualitas dan intelektuilitas. Juga tak sepadan saat kiyai menyandingkan diri dengan artis dan pengusaha. Bagi masyarakat Indonesia, artis dan film, terlebih pengusaha, bukanlah destinasi mengais spiritualitas dan intelektuilitas.

 

Mencari referensi kekayaan dan kemewahan sudah tersedia di mana-mana, dan mudah ditangkap. Tawaran kaya, membungakan uang, membuat tabungan berganda-ganda, motivator-motivator ekonomi, MLM (Multi Level Marketing), rayuan kapitalisme, materialisme dan sejenisnya amatlah bergelatakan berserakan di mana-mana, bisa ditemui di mana-mana, dan sama sekali tidak membutuhkan kiyai lagi. Menonton kekayaan dan kemewahan juga bisa dilakukan setiap hari, tiap waktu, detik per detik, di televisi, radio, android, malah hidup kita setiap hari sudah dikepung oleh hal-hal materialistik. Adapun menonton intelektuilitas dan spiritualitas, mencari intelektuilitas dan spiritualitas, berguru intelektulitas dan spiritualitas, semua itu adalah pada kiyai semata.

 

Membandingkan nuansa kesederhanaan, penulis teringat pada masa-masa kuliah dahulu di Canada, tepatnya kota Montreal, di unversitas McGill. Saat itu tahun 1993, dan penulis tinggal di apartemen (rusun) dekat kampus, untuk beberapa lama, di ketika baru saja tiba dari Indonesia. Apartemen tersebut tepatnya di jalan Hutchison. Apartemen tersebut memunyai penjaga gedung disebut janitor. Tugas janitor adalah mengawasi orang-orang keluar masuk apartemen, juga membantu membukakan pintu masuk bila penghuni lupa membawa kunci, atau buka pintu bagi tamu ingin masuk bertamu ke penghuni apartemen. Demi membunuh sepi lantaran menjaga 24 jam, janitor dibekali televisi di ruangannya. Namun televisi itu berukuran 50 cm, jadi mungkin besarnya sekitar 19 inci, mirip kotak sabun namun berukuran agak besar sedikit. Selain itu, tv tersebut juga hitam putih.    

 

Canada adalah welfare state (negara sejahtera), makmur dan kaya raya. Canada juga digolongkan lebih sejahtera daripada Amerika, maka peta negara Canada diwarnai hijau (green), sebagai simbol kesejahteraan. Dari sisi negara, Canada berbatasan dengan Amerika, adapun dari sisi kota, Montreal berbatasan dengan kota New York. Sekalipun Montreal bukan ibukota Canada (ibukota Canada ialah Ottawa), kemajuan serta kesempurnaannya melebihi kota Jakarta. Montreal dan New York telah mencipta hubungan perdagangan sangat erat dan saling menguntungkan.

 

Di sebuah negara sangat kaya raya ini, di kota Montreal, masih terdapat seseorang dengan televisi segede kotak sabun, hitam-putih, dan 19 inci pula. Sementara di Indonesia, khususnya Jakarta pada tahun 1993, mustahil ada seorang menonton dan menyimpan tv hitam putih apalagi ukuran 19 inci. Jika menggunakan definisi kesederhanaan “sesuai kemampuan” maka manakah lebih berhak dan mampu punya tv bagus: orang Montreal, Canada ataukah Jakarta, Indonesia?

 

Barangkali anda bertanya-tanya: mengapa seorang Canadian, Montrealer, juga downtowner (penghuni tengah kota, bukan pinggiran, sebab McGill menjadi pusat kota) cuma memilih tv hitam putih ukuran 19 inci? Penulis sempatkan bertanya perihal itu pada janitor tersebut. Ia menjelaskan bahwa televisi hitam putih baik ukuran kecil maupun besar masih banyak dijual di toko-toko elektronik Montreal (situasi ini sangat berkebalikan dari Jakarta dan kota-kota besar Indonesia lainnya.) Harga televisi hitam putih juga sangatlah murah-murah. Lantas bagi orang-orang Canada, pada umumnya, membelanjakan harta haruslah hemat, tepat, selaras keperluan saja, bukan kemampuan. Bagi Canadian—di seluruh kota dan daerah, bukan saja di Montreal—tak masalah untuk menonton tv hitam putih, asalkan terang dan jelas. Dalam hal ini, lebih utama lagi, bule’-bule’ Canada ini lebih memilih menabung, dan mendahulukan menabung demi masa depan, ketimbang bersikap konsumtif.

 

Dalam bahasa agama menabung ialah menunda kesenangan dan kenikmatan, berhemat demi kebutuhan paling urgen di masa depan. Menabung juga berarti menanam uang pada hal-hal produktif saja, bukan pada benda-benda konkret atau benda mati seperti tv, rumah dan mobil. Tidak sedikit cerita bule’ Canada semasa hidupnya tidak memiliki barang-barang mahal dan mewah, tetapi setelah meninggal dunia baru ketahuan memiliki harta banyak sekali, atau mewariskan uang berjumlah besar sekali, namun kemudian disedekahkan atau diwariskan kepada lembaga-lembaga sosial dan charity (amal.)  

 

Menurut perspektif “sesuai kemampuan” di atas, artinya bule’ lebih kaya dan mampu guna memunyai barang-barang mewah, tetapi mereka lebih memilih guna menunda kesenangan dan kenikmatan. Mereka tidak menanamkan uang pada barang-barang konsumtif, barang tidak produktif, melainkan mereka memilih untuk menabung. Mereka lebih mengejar sesuatu lebih jauh daripada kekinian, dalam bahasa al-Qur’ān dituturkan : وللآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأُوْلَى, akhir lebih utama daripada awal.

Masih cerita Montreal, penulis sekolah di IIS (Institute of Islamic Studies), semacam fakultas di dalam universitas. IIS ini memunyai 4 ruang kelas saja dan kecil-kecil, hanya memuat mahasiswa dapat terhitung jari, kurang lebih 10 orang, karena IIS diperuntukkan secara khusus untuk perkuliahan S2 dan S3. Jika IIS butuh kelas lebih besar, biasanya karena mahasiswa S1 ikut kuliah sebagai kewajiban memenuhi kredit semester, maka IIS akan menggunakan kelas di fakultas lain.

 

Tetapi sangatlah mencengangkan, McGill sebagai universitas bertaraf internasional, kelas dunia dan kaya raya, ternyata semua ruang kelas perkuliahannya baik untuk S1, S2 dan S3, baik besar maupun kecil, di semua fakultas, masih menggunakan papan tulis hitam (blackboard, kata orang Indonesia dahulu: papan bor) dan kapur. Di IAIN Ciputat saja sejak paruh kedua tahun 1984 sudah membuang papan tulis hitam, dan menggantinya dengan papan tulis putih serta menggunakan spidol, tak ada lagi kapur. Terlebih, kapur di seluruh ruang kelas McGill itu tidak selalu ada, melainkan harus diambil di kantor sekretariat dosen, maka siapa pun butuh kapur ia harus minta ke sekretariat dan akan diberikan paling banyak 2 batang kapur. Sementara di sekretariat dosen pun tidak pernah ada tumpukan kotak kapur, paling banyak cuma ada 2 kotak kapur saja untuk semua ruang kelas di bawah tanggung jawab sekretariat tersebut. Adapun di Indonesia, pasti setiap kelas diberikan satu kotak kapur, bukan hanya 2 batang, tapi tidak di Canada. Untuk ukuran kapur berharga murah saja, sekretariat dosen di McGill tidak menyetok banyak-banyak. Siapa pun pasti cuma bisa geleng-geleng kepala melihat penampakan seperti ini, penampakan super super hemat.

 

Jika disimak dari paradigma kesederhanaan dan kemampuan di atas, bukankah universitas McGill kaya raya itu lebih layak berhak punya papan tulis putih dengan spidol daripada papan tulis hitam dan kapur? Hingga pun tahun 1993, disebut zaman super modern, mendekati  masa milennial, ternyata salah satu universitas terbesar di dunia, di sebuah negara maju, ruang-ruang kelasnya masih pakai papan tulis hitam dan kapur? Pandangan dan mental seperti apakah dimiliki oleh masyarakat bule’ Canada dalam menjalani kehidupan?

 

Satu contoh lagi tentang Montreal dan McGill ialah mahasiswa Canada, yaitu para mahasiswa lahir sebagai orang Canada asli. Mahasiswa-mahasiswa Canada ini pada nyatanya tidak memiliki apapun di kost-kostan mereka (apartemen maupun asrama kampus.) Jangankan tv, komputer pun mereka tak punya, apalagi laptop. Mereka gunakan komputer gratis disediakan oleh kampus, tetapi mereka harus antri. Lebih leluasa mereka menggunakan jika sore hari sampai malam, karena antrian berkurang jauh. Mereka masuk dalam kategori mahisiswa miskin. Maka mereka iri pada mahasiswa Indonesia, karena semua mahasiswa Indonesia memunyai komputer sendiri-sendiri, serta tidak ikutan rebutan atau antri di kampus. Ini adalah hal lumrah bagi mahasiswa luar negeri jika memiliki sarana dan prasarana lebih baik, sebagaimana terjadi pada masyarakat luar negeri saat menjadi mahasiswa dan kuliah di Indonesia. Di hadapan mahasiswa luar negeri, mahasiswa Indonesia, kuliah di negeri sendiri, juga diklasifikasikan mahasiswa-mahasiswa miskin.

 

Seturut gejala umum, mahasiswa pribumi di negeri manapun dan apapun selalu miskin. Hanya mahasiswa luarnegeri saja kaya-raya. Selaras gejala umum pula, bukan hanya mahasiswa, guru dan dosen di manapun juga miskin-miskin. Di Canada, pula di negeri Barat lainnya, profesi kaya ialah artis, dan usah dikata lagi. Lalu kelas para pekerja kasar, yakni para pekerja mengeluarkan tenaga besar, semisal tukang bangunan, kuli pabrik, pembantu/asisten rumah tangga, sopir, tukang kebun, dan seterusnya. Para pekerja kasar ini, dengan gaji besarnya, dapat berjalan-jalan ke negeri-negeri lain sebagai wisatawan. Bila anda tanya turis-turis di Bali, atau tempat-tempat destinasi wisata, tentang profesi mereka, pasti mereka adalah pekerja kasar, bukan intelektuil atau sarjana, apalagi dosen dan mahasiswa.   

 

 Di atas adalah gambaran McGill Montreal tahun 1993-1995, sebab pada tahun 1995 penulis pulang kembali ke Indonesia. Namun 4 tahun kemudian, pada tahun 1999, penulis balik lagi ke McGill di Montreal untuk mengambil program S3 tingkat doktoral, disebut Ph.D. Sandwich. Kenyataannya masih tetap sama, tidak berubah. Janitor masih memertahankan tv 9 inci, padahal kantornya telah dirombak bagus, dibuat lebih cantik. Papan tulis masih hitam dan pakai kapur di seluruh kelas kampus McGill University. Sementara masiswa dan mahasiswi Canada pun masih tetap tidak punya komputer, serta masih tetap memanfaatkan komputer gratis di kampus.

 

Ternyata konsumsi masyarakat bule’ Canada pada barang-barang mewah benar-benar nol besar, biarpun tahun demi tahun perekonomian Canada berjalan lebih menggembirakan. Bahkan kapur tidak bisa disebut barang mewah saja masih tetap dihemat. Begitulah pendirian, kepribadian, dan prinsip orang-orang negara maju terhadap materi. Namun kita dapat memertanyakan: apakah ini kesederhanaan dan penghematan, ataukah pelit bin kumed bin bakhil? Anda sendiri pilih mana? Gaya mana pula jadi opsi anda: Canada ataukah Indonesia?

 

Penulis tertegun, mengapa harus belajar kesederhanaan justru pada masyarakat Canada, padahal disebut orang sebagai biang kapitalisme, sarang materialisme, dan kandang hedonisme? Kok penulis tidak temui hal ini dari mayoritas kiyai alumni, padahal disebut gudang keserhanaan, dan mata air rendah hati?

 

            Ngemeng-ngemeng, akhirnya, sederhana oh sederhana, alangkah tak sederhana dirimu. Kesederhanaanmu sesederhana restoran Padang “Sederhana.” Namanya saja “Sederhana,” tapi harga-harganya di atas sederhana. Sesiapa pun pernah makan di resto Sederhana, pasti tidak menemukan kesederhanaan. Sepertinya para kiyai alumni itu mengikuti kesederhanaan tak sederhana resto Sederhana, lantaran mereka sering mampir dan makan di resto Sederhana. Mungkin juga definisi dan pengertian sederhana adalah memang sesederhana rumah makan Padang Sederhana itu.

Wallāhu a‘lam bi ’sh-shawāb.


TerPopuler